Sabtu, 09 November 2013

promosi kesehatan di dalam gedung




                 
MAKALAH PROMOSI KESEHATAN DALAM GEDUNG PUSKESMAS


STIKES MATARAM
 









Disusun Oleh :

Semester V – U

S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Promosi Kesehatan merupakan upaya perubahan atau perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan. Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS.
Pada promosi kesehatan , peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor. Istilah promosi kesehatan tersebut juga ternyata sesuai dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia sendiri, yang mengacu pada paradigma sehat.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.      Apa itu promosi kesehatan ?
b.      Apa saja kegiatan promosi kesehatan dalam gedung ?
C.     TUJUAN
1.      Tujuan umum:
Memahami tentang ilmu keperawatan komunitas
2.      Tujuan khusus:
Mengetahui tentang promosi kesehatan dalam gedung dan kegiatan apa saja yang dilakukan didalam gedung.
D.    MANFAAT
Manfaat yang dapat kita petik dari penyusunan makalah ini adalah kita dapat memahami tentang promosi kesehatan dan kegiatan-kegiatan yang perlu kita lakukan dalam kegiatan promosi kesehatan didalam gedung puskesmas.




BAB II
PEMBAHASAN

a.         PROMOSI  KESEHATAN  DI DALAM  GEDUNG  PUSKESMAS
Promosi kesehatan didalam gedung puskesmas adalah  promosi   kesehatan   yang  dilaksanakan  dilingkungan  dan  gedung puskesmas  seperti  di  tempat  pendaftaran,  poliklinik,  ruang  perawatan, laboratorium, kamar obat, dan halaman puskesmas. Kegiatan  promosi kesehatan didalam gedung puskesmas dilaksanakan sejalan dengan pelayanan yang di selenggarakan puskesmas. Berikut ini rincian keterangan bentuk kegiatan promosi kesehatan yang dapat dilakukan di dalam gedung puskesmas.
 b.   KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN DIDALAM GEDUNG PUSKESMAS
1.      Di Tempat Pendaftaran
Memberikan salam kepada pengunjung puskesmas termasuk dari kegiatan promosi karena telah terjadi komunikasi awal yang menimbulkan kesan yang baik  dan  menyejukkan  bagi  pasien/pengunjung  puskesmas  sehingga mengurangi beban yang diderita. Kegiatan promosi kesehatan di tempat pendaftaran dapat dilakukan dengan penyebaran informasi melalui media seperti poster, leaflet, selebaran yang dapat dipasang/diletakkkan di depan loket pendaftaran. Adapun jenis informasi yang disediakan, yaitu :
a.         Alur pelayanan puskesmas
b.         Jenis pelayanan puskesmas
c.         Denah poliklinik
d.        Informasi masalah kesehatan yang menjadi masalah pada saat itu
e.         Peraturan  kesehatan   seperti  dilarang  merokok,  dilarang  meludah sembarangan, membuang sampah pada tempatnya dan lain-lain.
2.      Di Poliklinik
Petugas kesehatan puskesmas yang melayani pasien meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien berkenaan dengan penyakitnya atau obat yang harus ditelannya. Tetapi jika hal ini belum mungkin dilaksanakan, maka dapat dibuka klinik khusus bagi para pasien rawat jalan yang memerlukan konsultasi atau konseling. Guna memudahkan pemberdayaan dalam pelayanan medis, harus disediakan berbagai media (alat peraga) seprti misalnya lembar balik (flashcards), poster, gambar-gambar atau model anatomi, dan brosur (leaflet) yang bisa dibawa oleh pasien. Pihak yang paling berpengaruh terhadap pasien rawat jalan adalah orang yang mengantarkannya ke puskesmas. Mereka ini tidak dalam keadaan sakit, sehingga untuk memungkinkan untuk mendapatkan informasi dari berbagai media komunikasi yang tersedia di poliklinik. Oleh karena itu dipoliklinik, khususnya di Ruang Tunggu, perlu dipasang media seperti poster, selebaran (leaflets) yang berisi informasi tentang berbagai penyakit dan pencegahannya.Dengan mendapat informasi yang benar mengenai penyakit yang diderita  pasien,  diharapkan  dapat  membantu  puskesmas  memberikan informasi kepada pasien. Pemasangan poster dan media komunikasi lainnya, mendorong pasien untuk berperilaku sesuai yang dikehendaki agar penyakit atau masalah kesehatan yang dideritanya segera diatasi.
3.      Di ruang pelayanan KIA dan KB
Di pelayanan KIA dan KB selain dijumpai pasien sakit (misalnya bayi atau balita), sebagian besar pengunjung adalah Ibu-ibu yang memeriksakan kehamilannya  atau  hendak  bersalin,  atau  mereka  yang  memerlukan pelayanan kontrasepsi. Petugas kesehatan di pelayanan KIA & KB tersebut perlu meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien/ individu berkenaan dengan pelayanan yang didapatnya. Jika belum mampu, dapat dilimpahkan ke klinik khusus.Pihak  yang  paling  berpengaruh  terhadap  pasien/individu  yang mendapat  pelayanan  KIA &  KB,  juga  orang  yang  mengantarkannya  ke puskesmas. Oleh perlu dipasang poster-poster atau disediakan selebaran-selebaran (leaflets) tentang berbagai penyakit, khususnya yang menyerang bayi dan balita. Disamping itu, tentang pentingnya memeriksakan kehamilan secara teratur, pentingnya tablet Fe bagi ibu hamil, pentingnya imunisasi lengkap  bagi  bayi,  pentingnya  pemberian  ASI  eksklusif,  pentingnya memantau tumbuh kembang balita, dan lain-lain. Dengan mendapatkan informasi yang benar tentang berbagai hal tersebut, pengantar diharapkan dapat membantu puskesmas memberikan informasi kepada pasien/ individu tersebut.  Pasien/individupun  merasa  dalam  suatu  lingkungan  yang mendorongnya  untuk  berperilaku  sesuai  yang  dikehendaki  untuk kesehatannya.


4.      Di Ruang Perawatan Inap            
Pemberdayaan terhadap pasien raawat inap dilakukan terhadap pasien ibu-ibu bersalin, pasien yang sudah dalam fase penyembuhan dan pasien penyakit kronis (kanker, tuberculosis, dan lain-lain). Tujuannya adalah  agar pasien tidak kambuh dan dapat menjaga kesehatannya setelah pulang kerumah terutama bagi paasien yang menderita penyakit kronis. Beberapa cara pemberdayaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a.       Di tempat tidur
Penyuluhan ditempat tidur dilakukan terhadap pasien rawat inap yang belum dapat atau masih sulit meninggalkan tempat tidurnya dan harus terus berbaring. Dalam hal ini petugas kesehatan puskesmas mendatangi pasien/individu,  duduk  disamping  tempat  tidur  pasien  tersebut,  dan melakukan penyuluhan. Oleh karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, maka alat peraga atau medis, komunikasi yang digunakan haruslah yang mudah dibawa-bawa seperti lembar balik (flash cards), gambar-gambar atau foto-foto. Alat peraga tersebut sebaiknya sedikit mencantumkan kata-kata atau kalimat.
b.      Penggunaan Bahan Bacaan (Biblioterapi)
Bahan-bahan bacaan sebagai sarana untuk membantu proses penyakit yang diderita pasien rawat inap puskesmas. Di Negara-negara maju seperti  Amerika  Serikat,  perpustakaan-perpustakaan  yang  dimiliki Puskesmas  tidak  hanya  berperan  dalam  mendukung  perkembangan pengetahuan petugas, melainkan juga dalam upaya penyembuhan pasien. Para pasien boleh meminjam bacaan yang diminati untuk beberapa lama,dan mengembalikan bahan bacaan, bagi pasien yang tidak dapat membaca (misalnya karena sakit mata), maka biblioterapi dapat digabung dengan  bedside health promotion. Dalam hal ini petugas kesehatan membantu pasien mebacakan sambil melakukan promosi kesehatan .
c.       Penyuluhan Berkelompok
Terdapat pasien yang dapat meninggalkan tempat tidurnya dalam waktu singkat, dapat dilakukan promosi kesehatan secara berkelompok (3-6 orang).  Untuk  itu  di  bangsal  perawatan  yang  bersangkutan  harus disediakan suatu tempat atau ruangan untuk berkumpul. Penyuluhan berkelompokk ini selain untuk meningkatkan pengetahuan serta karena itu, kegiatan ini lebih bersifat menghibur, santai dan dapat diselingi rekreasi. Untuk  penyuluhan berkelompok sebaiknya menggunakan media komunikasi untuk kelompok juga menggunakan metode yang bersifat menghibur seperti permainan, simulasi. Lebih baik digunakan media yang lebih besar seperti flipchart, poster, atau standing banner. Jika penyuluhan berkelompok  digunakan  diruangan,  dapat  digunakan  laptop,  LCD proyektor dan layarnya untuk menayangkan gambar-gambar atau film.
d.      Pemanfaatan Ruang Tunggu
Ruang tunggu dapat digunakan sebagai sarana bina suasana terutama untuk  para  penjenguk  yang  datang  beberapa  saat  sebelum  waktu kunjungan dimulai. Pada dinding ruang tunggu dapat dipasang berbagai poster, disediakan boks berisi selebaran/leaflet yang dapat diambil secara gratis. Dengan berbagai informasi tersebut diharapkan para penjenguk mendapat informasi yang nantinya dapat disampaikan juga kepada pasien yang akan dijenguknya.
e.       Pendekatan keagamaan
Suasana  yang  mendukung  terciptanya  perilaku  untuk  mempercepat penyembuhanpenyakit  dapat  dilakukan  pula  dengan  pendekatan keagamaan. Dalam hal ini para petugas kesehatan baik dengan upaya sendiri ataupun dengan dibantu pemuka agama, mengajak pasien unttk melakukan  pembacaan  doa-doa.  Rujukan  terhadap  kitab  suci  untuk memperkuat nasihat biasanya dilakukan, sehingga pasienpun merasa lebih yakin akan kebenaran perilaku yang harus dilaksanakannya untuk mempercepat penyembuhan penyakitnya.
5.      Di Laboratorium
Kesadaran yang ingin diciptakan dalam diri masyarakat (pasien/orang sakit, individu/pengunjung/orang sehat, dan para pengantarnya) adalah pentingnya melakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu :
·         Bagi pasien adalah untuk ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh dokter
·         Bagi pengunjung yang sehat lainnya adalah untuk memantau kondisi kesehatan , agar dapat diupayakan untuk tetap sehat Dikawasan laboratorium sebaiknya dilakukan promosi kesehatan dengan media yang bersifat  self service seperti poster yang dapat dibaca atau leaflets yang dapat diambil gratis.
6.      Di Kamar Obat
Dikamar obat juga dijumpai pasien/individu, keluarga atau pengantarnya. Kesadaran  yang  ingin  diciptakan  dalam  diri  mereka  adalah  terutama tentang :
*                    Manfaat obat generik dan keuntungan jika menggunakan obat generik.
*                     Kedisiplinan dan kesabaran dalam menggunakan obat, sesuai dengan petunjuk dokter. Pentingnya  memelihara  taman  obat  keuarga  (TOGA)  dalam  rangka memenuhi kebutuhan akan obat-obat sederhana. Disamping  dipasang  poster  dan  disediakan  leaflet  tentang  informasi kesehatan , di ruang iini dapat dioperasikan tape recorder atau player yang menyampaikan pesan-pesan tersebut.
7.      Di Klinik Khusus
Klinik khusus diselenggarakan dalam rangka meningkatkan upaya promosi kesehatan di dalam gedung puskesmas. khususnya untuk pelayanan-pelayanan yang perlu mendapat tambahan dalam hal promosi kesehatannya. Biasanya karena pasien terlalu banyak, sedangkan petugas kesehatan yang melayani  terbatas  (misalnya  di  poliklinik),  atau  karena  pasien  dan keluarganya  memerlukan  informasi/konsultasi  khusus  (misalnya  tentang sanitasi/ kesehatan lingkungan, gizi, KB, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan lain-lain). Dalam hal iini beberapa puskesmas mengembangkan klinik-klinik khusus sebagai upaya inovasi, seperti misalnya : Klinik Gizi, Klinik Sanitasi, Klinik Konsultasi Remaja, dan lain-lain.Kegiatan promosi kesehatan yang diselenggarakan diklinik khusus umumnya adalah berupa layanan konseling. Umumnya pelayanan disini berupa membantu upaya pemecahan masalah yang dirujuk dari poliklinik atau pelayanan KIA & KB.
Beberapa  prinsip  pemberian  informasi  melalui  konseling  kepada pasien/individu yang perlu diperhatikan adalah :
a.  Memberikan suasana gembira dan semangat hidup Pada saat memulai pemberian informasi, sebaiknya petugas tidak langsung mengungkap  masalah,  kelemahan,  atau  kekeliruan  pasien/individu. Perbincangan harus diawali dengan situasi yang menggembirakan, karena situasi yang demikian membuat pasien/masyarakat menjadi tertarik untuk terlibat dalam perbincangan,  selanjutnya pasien/individu  diajak  untuk mengungkapkan sendiri masalah, kelemahan atau kekeliruannya.
b.  Menghargai pasien/klien sepenuh hati Menghargai  pasien/individu  adalah  syarat  utama  untuk  terjadinya hubungan yang baik dan terbuka caranya dengan memberikan ucapan dan bahasa tubuh yang menghargai.
c.  Melihat pasien/individu sebagai subyek Petugas  kesehatan   puskesmas  harus  mengendalikan  kecenderungan keinginannya  untuk  menasihati.  Upayakan  agar  pasien  berbicara sebanyak-banyaknya  tentang  dirinya.  Sementara  itu  pembicaraan diarahkan kepada pemecahan masalah yang dihadapi. Dengan demikian “resep” pemecahan masalah itu datang dari diri pasien/individu itu sendiri. Hal  ini  akan  menjadi  komitmen  dari  pasien  untuk  melaksanakan pemecahan masalah tersebut.
d. Mengembangkan dialog yang menyentuh perasaan. Dalam  hubungan  yang  baik,  petugas  kesehatan   puskesmas  selalu berusaha untuk mengemukakan kata-kata yang menyentuh perasaan pasien/individu. Banyak petugas kesehatan menggunakan pendekatan agama untuk membuat pasien/individu tersentuh.
e. Memberikan keteladanan Keteladanan sikap dan perilaku petugas kesehatan puskesmas dapat menyentuh perasaan pasien/individu. Keteladanan memang merupakan sugesti yang cukup kuat untuk berubah kearah positif. Motivasi untuk berubah itu disebabkan oleh kepribadian, wawasan, keterampilan dan kebajikan tenaga kesehatan terhadap pasien/individu.
8.  Di halaman
Dihalaman  puskesmas  yaitu  ditempat  parkir,  taman,  dinding,  pagar, kantin/kios, dan tempat ibadah dapat dilakukan promosi kesehatan.
Di Tempat Parkir Puskesmas
Tempat parkir Puskesmas sebaiknya dilakukan promosi kesehatan yang bersifat umum. Misalnya tentang pentingnya melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seruan Presiden tentang Kesehatan , Himbauan untuk menggunakan obat generic berlogo, bahaya merokok, bahaya mengkonsumsi minuman keras, bahaya menyalahgunakan napza, dll. Pesan tersebut ditampilkan dalam bentuk baliho/billboard.
Di Taman Puskesmas
Taman puskesmas memang diperlukan guna memperindah pemandangan disekitar puskesmas, namun demikian, taman ini sebenarnya digunakan sebagai sarana me      mperkenalkan berbagai jenis tanaman yang berkhasiat obat. Jika demikian, taman tersebut dapat dikatakan sebagai Taman Obat Keluarga  (TOGA).  Ditaman  puskesmas,  sekaligus  ditunjukkan  jenis tanaman dengan kandungan gizinya, bahkan dapat ditampilkan berbagai hewan sumber protein hewani, kolam beserta ikan sungguhan juga dapat dibuat guna menambah keindahan taman.
*                           Di Dinding Puskesmas
Dinding puskesmas dapat ditampilkan pesan promosi kesehatan misalnya dalam bentuk poster, agar penampilan pesan tidak merusak keindahan disarankan tidak banyak memasang poster di dinding.
*                           Di pagar Pembatas Kawasan Pusekesmas
Pembatas Kawasan Puskesmas Pesan yang ditampilkan di sarana ini disesuaikan dengan fungsi sarana,Pada saat-saat tertentu, misalnya kampanye Hari Kesehatan Nasional, kampanye Hari AIDS, dll, dapat dipasang spanduk, pemasangan spanduk ini juga harus diperhatikan agar tidak merusak pemandangan.
*                           Di Kantin
Di kantin, sebaiknya ditampilkan pesan yang berkaitan dengan konsumsi  gizi  seimbang,  di  kios  bacaan  ditampilkan  pesan  tentang bagaimana membaca secara sehat (agar tidak merusak mata), dan lain-lain. Bentuk media komunikasi yang cocok seperti poster atau neon box, dan leaflet, brosur atau selebaran yang dapat diambil secara grati
*                           Di Tempat Ibadah
Tempat ibadah di Puskesmas biasanya untuk kepentingan individu atau kelompok kecil, seperti musholla. Pesan yang disampaikan sebaiknya berupa  pesan-pesan  untuk  kesehatan   jiwa  dan  pentingnya  menjaga kebersihan/ kesehatan lingkungan.











BAB III
PENUTUP
a.       KESIMPULAN
Promosi kesehatan didalam gedung puskesmas adalah  promosi   kesehatan   yang  dilaksanakan  dilingkungan  dan  gedung puskesmas  seperti  di  tempat  pendaftaran,  poliklinik,  ruang  perawatan, laboratorium, kamar obat, dan halaman puskesmas. Kegiatan  promosi kesehatan didalam gedung puskesmas dilaksanakan sejalan dengan pelayanan yang di selenggarakan puskesmas.
Kegiatan promosi kesehatan di dalam gedung dapat dilakukan seperti : di tempat pendaftaran, di poliklinik, di ruang pelayanan KIA & KB, di ruang perawatan inap, di tempat tidur, penggunaan bahan bacaan (bibliografi), penyuluhan berkelompok, pemanfaatan ruang tunggu, pendekatan keagamaan, di laboratorium, di kamar obat, di tempat pembayaran, di kamar khusus, di halaman dan di tempat ibadah.
b.      SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita pada mata kuliah Komunitas tentang ‘Promosi Kesehatan Di Dalam Gedung‘. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih.